MISKONSEPSI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA PADA MATERI
“ KESETIMBANGAN KIMIA “
1. Pengertian Miskonsepsi
Miskonsepsi atau salah konsep menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu. Bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan intuitif atau pandangan yang naif. Khusus untuk peserta didik pemula, miskonsepsi sering juga diistilahkan dengan konsep alternatif.
Berg (1993) menyebut miskonsepsi sebagai “gagal konsepsi”. Miskonsepsi adalah fenomena dimana seseorang gagal menerapkan teori di lapangan karena pemahaman konsep yang tidak lengkap atau keliru dalam intepretasinya.Referensi lain menyebutkan bahwa miskonsepsi adalah suatu konsep yang dipercaya orang walaupun konsep tersebut salah baik berupa ide atau pemikiran yang salah, ataupun hanya berwujud pendapat yang salah (Wikipedia, 2008).
Adanya miskonsepsi dalam berbagai bidang ini telah lama disadari dan telah menjadi inti riset-riset empiris sains pembelajaran selama 20 tahun terakhir ini sehingga telah banyak muncul tulisan-tulisan ilmiah mengenainya. Munculnya miskonsepsi yang paling banyak adalah bukan selama proses belajar mengajar melainkan sebelum proses belajar mengajar dimulai, yaitu pada konsep awal yang telah dibawa siswa sebelum ia memasuki proses tersebut atau yang disebut sebagai prakonsepsi (Masril dan Nur Asma, 2002).
2. Terjadinya Miskonsepsi
Secara garis besar miskonsepsi ini dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu gagal kondisi dan gagal intuisi. Gagal kondisi adalah kegagalan aplikasi akibat tidak dikuasainya kondisi-kondisi yang melatar belakangi sebuah teori. Sedangkan gagal intuisi adalah kegagalan aplikasi akibat tidak dimilikinya intuisi atau konteks fisis sebagai pengalaman yang terintegrasi dengan teori.Dua jenis kegagalan ini dapat saling mempengaruhi. Gagal kondisi yang berlarut-larut dapat menjadi gagal intuisi yang lebih parah, dan sebaliknya gagal intuisi dapat menyebabkan kecenderungan terjadinya gagal kondisi.
Masril dan Nur Asma (2002) masih menyebutkan satu penyebab yaitu kurangnya pengetahuan dari siswa atau peserta didik.
“ KESETIMBANGAN KIMIA “
1. Pengertian Miskonsepsi
Miskonsepsi atau salah konsep menunjuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam bidang itu. Bentuk miskonsepsi dapat berupa konsep awal, kesalahan, hubungan yang tidak benar antara konsep-konsep, gagasan intuitif atau pandangan yang naif. Khusus untuk peserta didik pemula, miskonsepsi sering juga diistilahkan dengan konsep alternatif.
Berg (1993) menyebut miskonsepsi sebagai “gagal konsepsi”. Miskonsepsi adalah fenomena dimana seseorang gagal menerapkan teori di lapangan karena pemahaman konsep yang tidak lengkap atau keliru dalam intepretasinya.Referensi lain menyebutkan bahwa miskonsepsi adalah suatu konsep yang dipercaya orang walaupun konsep tersebut salah baik berupa ide atau pemikiran yang salah, ataupun hanya berwujud pendapat yang salah (Wikipedia, 2008).
Adanya miskonsepsi dalam berbagai bidang ini telah lama disadari dan telah menjadi inti riset-riset empiris sains pembelajaran selama 20 tahun terakhir ini sehingga telah banyak muncul tulisan-tulisan ilmiah mengenainya. Munculnya miskonsepsi yang paling banyak adalah bukan selama proses belajar mengajar melainkan sebelum proses belajar mengajar dimulai, yaitu pada konsep awal yang telah dibawa siswa sebelum ia memasuki proses tersebut atau yang disebut sebagai prakonsepsi (Masril dan Nur Asma, 2002).
2. Terjadinya Miskonsepsi
Secara garis besar miskonsepsi ini dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu gagal kondisi dan gagal intuisi. Gagal kondisi adalah kegagalan aplikasi akibat tidak dikuasainya kondisi-kondisi yang melatar belakangi sebuah teori. Sedangkan gagal intuisi adalah kegagalan aplikasi akibat tidak dimilikinya intuisi atau konteks fisis sebagai pengalaman yang terintegrasi dengan teori.Dua jenis kegagalan ini dapat saling mempengaruhi. Gagal kondisi yang berlarut-larut dapat menjadi gagal intuisi yang lebih parah, dan sebaliknya gagal intuisi dapat menyebabkan kecenderungan terjadinya gagal kondisi.
Masril dan Nur Asma (2002) masih menyebutkan satu penyebab yaitu kurangnya pengetahuan dari siswa atau peserta didik.
Dalam miskonsepsi dalam Kesetimbangan Kimia harus menggunakan dan memiliki pemahaman tingkat tinggi, dalam kesetimbangan kimia ini guru harus mempunyai kosa kata yang baik dalam menjelaskan materi kesetimbangan kimia. Jika seorang guru kurang paham dalam materi ini siswa juga akan mengalami kebinggungan dan hal ini yang mengakibatkan siswa akan mengalami miskonsepsi dalam materi ini.
Materi ini juga sudah dianggap sulit baik bagi guru dan bagi siswa itu sendiri. Konsep-konsep kimia yang digunakan dalam kesetimbangan kimia sangat bersifat abstrak dan istilah-istilah yang digunakan juga sulit untuk di mengerti, banyaknya istilah membuat siswa mengalami kesulitan dalam menghapal dan memahami konsep yang ada dalam kesetimbangan kimia ini.
Sebaiknya juga siswa diperkuat dalam setiap hitungan mol ataupun konsentrasi suatu larutan dan memahami setiap konsep mol ataupun konsentrasi tersebut dan memahami konsep kesetimbangan dalam kimia sehingga tidak ada kesulitan dalam mennetukan konsentrasi jika mol yang diketahui dan volume diketahui atau dari mol di perintahkan untuk mengubah ke dalam konsentrasi.
Banyaknya siswa yang mengalami kesalahpahaman (misconception) kesetimbangan kimia mengharuskan sebagi pelaku guru untuk meningkatkan pemahaman dan mencari subject (sub pokok) apa-apa saja yang selalu mengalami miskonsepsi. Sehingga siswa tidak lagi mengalami kesalahpahaman (miskonsepsi) atau hanya untuk mengurangi jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi.
3. Mengatasi Terjadinya Miskonsepsi
Kedua jenis gagal konsepsi di atas dapat diatasi berdasarkan wataknya. Gagal kondisi lebih mudah diatasi. Konsep yang diberikan harus disertai kondisi-kondisinya secara lengkap dan benar. Peristiwa kimia dapat dijelaskan melalui persamaan reaksi, tapi bukan persamaan itu sendiri. Persamaan itu lumpuh tanpa pengertian lengkap tentang apa dan bagaimana latar belakang kejadiannya.
Gagal intuisi harus diatasi dengan upaya-upaya disain praktikum, demo, dan pengamatan lingkungan, yang dilaksanakan sedini mungkin pada usia anak-anak. Integrasi antara pengalaman sejati dengan konsep keilmuan harus terjadi secara wajar sejak dini.
Berg (1993) mengemukakan beberapa langkah yang dapat digunakan dalam pembelajaran mengatasi miskonsepsi, tetapi menurutnya perlu disadari bahwa sebenarnya belum ada cara yang efektif dan efisien.
1. Langkah pertamaadalah mendeteksi prakonsepsi siswa.Apa yang sudah ada dalam kepala siswa sebelum kita mulai mengajar? Prakonsepsi apakah yang sudah terbentuk dalam kepala siswa oleh pengalaman dengan peristiwa-peristiwa yang akan dipelajari? Apa kekurangan prakonsepsi tersebut? Prakonsepsi dapat diketahui dari literatur atau hasil-hasil penelitian sebelumnya, test diagnostik, pengamatan, membaca jawaban-jawaban yang diberikan siswa langsung, dari peta konsep dan dari pengalaman guru. Literatur dan test diagnostik sangat membantu, atau dengan membaca hasil tes esai siswa dengan cara yang kritis dan santai. Fokuskan perhatian kepada jawaban siswa yang salah.
2. Langkah keduaadalah merancang pengalaman belajar yang bertolak dari prakonsepsi tersebut dan kemudian menghaluskan bagian yang sudah baik dan mengoreksi bagian konsep yang salah. Prinsip utama dalam koreksi miskonsepsi adalah bahwa siswa diberi pengalaman belajar yang menunjukkan pertentangan konsep mereka dengan peristiwa alam. Dengan demikian diharapkan bahwa pertentangan pengalaman ini dengan konsep yang !ama akan menyebabkan koreksi konsepsi (cognitive dissonance theory, Festinger). Atau dengan memakai istilah Piaget dapat dikatakan bahwa pertentangan pengalaman baru dengan konsep yang salah akan menyebabkan akomodasi, yaitu penyesuaian struktur kognitif (otak) yang menghasilkan konsep baru yang lebih tepat, akan tetapi, belum tentu pengalaman yang tidak cocok dengan prakonsepsi akan berhasil.
3. Langkah ketiga adalah latihan pertanyaan dan soal untuk melatih konsep baru dan menghaluskannya. Pertanyaan dan soal yang dipakai harus dipilih sedemikian rupa sehingga perbedaan antara konsepsi yang benar dan konsepsi yang salah akan muncul dengan Jelas. Cara mengajar yang tidak membantu adalah kalau guru hanya membahas soal tanpa memperhatikan konsep (drill), atau hanya menulis banyak rumus di papan tulis, atau hanya berceramah tanpa interaksi dengan murid.
Materi ini juga sudah dianggap sulit baik bagi guru dan bagi siswa itu sendiri. Konsep-konsep kimia yang digunakan dalam kesetimbangan kimia sangat bersifat abstrak dan istilah-istilah yang digunakan juga sulit untuk di mengerti, banyaknya istilah membuat siswa mengalami kesulitan dalam menghapal dan memahami konsep yang ada dalam kesetimbangan kimia ini.
Sebaiknya juga siswa diperkuat dalam setiap hitungan mol ataupun konsentrasi suatu larutan dan memahami setiap konsep mol ataupun konsentrasi tersebut dan memahami konsep kesetimbangan dalam kimia sehingga tidak ada kesulitan dalam mennetukan konsentrasi jika mol yang diketahui dan volume diketahui atau dari mol di perintahkan untuk mengubah ke dalam konsentrasi.
Banyaknya siswa yang mengalami kesalahpahaman (misconception) kesetimbangan kimia mengharuskan sebagi pelaku guru untuk meningkatkan pemahaman dan mencari subject (sub pokok) apa-apa saja yang selalu mengalami miskonsepsi. Sehingga siswa tidak lagi mengalami kesalahpahaman (miskonsepsi) atau hanya untuk mengurangi jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi.
3. Mengatasi Terjadinya Miskonsepsi
Kedua jenis gagal konsepsi di atas dapat diatasi berdasarkan wataknya. Gagal kondisi lebih mudah diatasi. Konsep yang diberikan harus disertai kondisi-kondisinya secara lengkap dan benar. Peristiwa kimia dapat dijelaskan melalui persamaan reaksi, tapi bukan persamaan itu sendiri. Persamaan itu lumpuh tanpa pengertian lengkap tentang apa dan bagaimana latar belakang kejadiannya.
Gagal intuisi harus diatasi dengan upaya-upaya disain praktikum, demo, dan pengamatan lingkungan, yang dilaksanakan sedini mungkin pada usia anak-anak. Integrasi antara pengalaman sejati dengan konsep keilmuan harus terjadi secara wajar sejak dini.
Berg (1993) mengemukakan beberapa langkah yang dapat digunakan dalam pembelajaran mengatasi miskonsepsi, tetapi menurutnya perlu disadari bahwa sebenarnya belum ada cara yang efektif dan efisien.
1. Langkah pertamaadalah mendeteksi prakonsepsi siswa.Apa yang sudah ada dalam kepala siswa sebelum kita mulai mengajar? Prakonsepsi apakah yang sudah terbentuk dalam kepala siswa oleh pengalaman dengan peristiwa-peristiwa yang akan dipelajari? Apa kekurangan prakonsepsi tersebut? Prakonsepsi dapat diketahui dari literatur atau hasil-hasil penelitian sebelumnya, test diagnostik, pengamatan, membaca jawaban-jawaban yang diberikan siswa langsung, dari peta konsep dan dari pengalaman guru. Literatur dan test diagnostik sangat membantu, atau dengan membaca hasil tes esai siswa dengan cara yang kritis dan santai. Fokuskan perhatian kepada jawaban siswa yang salah.
2. Langkah keduaadalah merancang pengalaman belajar yang bertolak dari prakonsepsi tersebut dan kemudian menghaluskan bagian yang sudah baik dan mengoreksi bagian konsep yang salah. Prinsip utama dalam koreksi miskonsepsi adalah bahwa siswa diberi pengalaman belajar yang menunjukkan pertentangan konsep mereka dengan peristiwa alam. Dengan demikian diharapkan bahwa pertentangan pengalaman ini dengan konsep yang !ama akan menyebabkan koreksi konsepsi (cognitive dissonance theory, Festinger). Atau dengan memakai istilah Piaget dapat dikatakan bahwa pertentangan pengalaman baru dengan konsep yang salah akan menyebabkan akomodasi, yaitu penyesuaian struktur kognitif (otak) yang menghasilkan konsep baru yang lebih tepat, akan tetapi, belum tentu pengalaman yang tidak cocok dengan prakonsepsi akan berhasil.
3. Langkah ketiga adalah latihan pertanyaan dan soal untuk melatih konsep baru dan menghaluskannya. Pertanyaan dan soal yang dipakai harus dipilih sedemikian rupa sehingga perbedaan antara konsepsi yang benar dan konsepsi yang salah akan muncul dengan Jelas. Cara mengajar yang tidak membantu adalah kalau guru hanya membahas soal tanpa memperhatikan konsep (drill), atau hanya menulis banyak rumus di papan tulis, atau hanya berceramah tanpa interaksi dengan murid.
Daftar Pustaka
Ausubel, David P., Floyd G. Robinson., (1978). School Learning. Holt, Rinehart and Winston, New York.
Berg, Euwe van den (ed), (1991). Miskonsepsi Fisika dan Remediasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Press.
Novak & Gowin., (1984). Learning How to Learn. Cambridge: University Press.
Masril dan Nur Asma., (2002). “Pengungkapan Miskonsepsi Siswa Force Concept Inventory dan Certainity of Response Inde”. Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia. 2002. Vol.B5). Hlm: 1-3. Available at: http:hfi.fisika.net
Ausubel, David P., Floyd G. Robinson., (1978). School Learning. Holt, Rinehart and Winston, New York.
Berg, Euwe van den (ed), (1991). Miskonsepsi Fisika dan Remediasi. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana Press.
Novak & Gowin., (1984). Learning How to Learn. Cambridge: University Press.
Masril dan Nur Asma., (2002). “Pengungkapan Miskonsepsi Siswa Force Concept Inventory dan Certainity of Response Inde”. Jurnal Fisika Himpunan Fisika Indonesia. 2002. Vol.B5). Hlm: 1-3. Available at: http:hfi.fisika.net